Pengertian Eksistensi Pendidikan
Secara etimologi eksistensi berasal dari bahasa Inggris yaitu excitence; dari bahasa latin existere yang berarti muncul, ada, timbul, memilih keberadaan aktual. Dari kata ex berarti keluar dan sistere yang berarti muncul atau timbul. Beberapa pengertian secara terminologi, yaitu pertama, apa yang ada, kedua, apa yang memiliki aktualitas (ada), dan ketiga adalah segala sesuatu (apa saja) yang di dalam menekankan bahwa sesuatu itu ada.
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pengertian pendidikan menurut berapa para ahli : menurut Langeveld, pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan damn bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan ditunjukkan kepada orang yang belum dewasa. Ki Hajar Dewantara berpendapat, bahwa pendidikan adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
B. Ayat-ayat Al-Qur’an Mengenai Eksistensi Pendidikan
Surat Al-Imran ayat 137-138 disebutkan:
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوْا فِى الْأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُالْمُكَذِّبِيْنَ (137) هَاذَا بَيَا نٌ لِّلنَّا سِ وَهُدًى وَمَوْ عِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ (138)
“sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan pertahankanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). Inilah (al-qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran :137-138)
Surat at Taubah ayat 122 disebutkan:
Allah ta’ala menyampaikan sebuah arti penting kedudukan pendidikan bagi manusia,
وَماَ كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْاكَآفَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِ رُوْا قَوْمَهُمْ إِذَارَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Surat Al-Baqarah ayat 249 disebutkan:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ قَالُوا لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا اللهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ {249
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu sungai. Maka siapa diantara kalian meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku. “Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapaorang diantara mereka. Maka, tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia menyebrangi sungai itu, orang-orangyang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
Surat An-Nisa’ ayat 9 disebutkan:
وَلْيَخْشَالَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا
“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”.
Surat An-Naml ayat 40 disebutkan:
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40) [النمل/40]
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[ HYPERLINK "http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7494446144722260705" \l "_ftn2" \o "" [2]]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Surat Al-Nahl ayat 8disebutkan:
وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.
C. Komentar Para Mufassir
1. Surat Al-Imran ayat 137-138
Ayat di atas memperbincangkan sejarah umat masa lalu di mana ketentuan Allah telah diberlakukan terhadap meraka yang mendustakan ayat-ayat Nya, tidak mau beriman kepada Nya. Manusia dituntut agar mempelajari ketentuan Allah tersebut melalui peninggalan sejarah. Perintah mempelajari fenomena alam ini tergambar dalam penggalan ayat siiruu dan fanzuruu yang berarti manusia diperintah agar mempelajari sejarah. Pernyataan al-Qur’an mengenai sejarah dan fenomena alam lainnya menjadi bayan atau ilmu bagi manusia mendapat petunjuk serta pelajaran, dan akhirnya dapat membuat diri menjadi insan yang sholeh dan bertaqwa kepada Allah.
2.Surat at Taubah ayat 122
Pada ayat ini Allah ta’ala memerintahkan agar senantiasa ada sekelompok manusia yang memperdalam ilmu pengetahuan meski sedang ada perintah jihad. Hal ini menunjukkan, “kebutuhan suatu bangsa terhadap jihad dan para mujahid sama seperti kebutuhan bangsa terhadap ilmu dan para ulama.
3. Surat Al-Baqarah ayat 249
Ayat 249 berkisah tentang kelakuan buruk Bani Israel saat bersama Raja mereka; Ṭalut. Saat mereka sudah berada di luar kota sedang menuju medan pepera-ngan, Ṭalut memperingatkan mereka akan ujian Allah berupa melewati sebuah sungai. Siapa saja di antara mereka yang meminum air sungai itu maka akan menjadi lemah dan tidak mampu melawan musuh, kecuali ha-nya sekedar mencicipi dengan tangan mereka. Benar saja, saat melewati sungai tersebut beramai-ramai mereka meminumnya sebanyak mungkin kecuali segelintir saja yang lolos dari ujian tersebut.
Allah akan menolong mereka menghadapi musuh mereka, meneguhkan hati mereka ketika berhadapan dengan musuh. Ayat ini menganjurkan bersikap bersabar, karena dengan bersabar akan membawa kemenangan.
4. Surat An-Nisa’ ayat 9
Dalam ayat ini yang diingatkan adalah kepada mereka yang berada di sekeliling para pemilik harta yang sedang menderita sakit. Mereka seringkali memberi aneka nasehat kepada pemilik harta yang sakit itu, agar yang sakit itu mewasiatkan kepada orang-orang tertentu sebagian dari harta yang akan ditinggalkannya, sehingga akhirnya anak-anaknya sendiri terbengkalai. Kepada mereka itu ayat 9 diatas berpesan: Dan hendaklah orang-orang yang memberi aneka nasehat kepada pemilik harta agar membagikan hartanya kepada orang lain sehingga anak-anaknya sendiri terbengkalai, hendaklah mereka membanyangkan seandainyamereka akan meninggalkan di belakang mereka, yakni setelah kematian mereka, anak-anak yang lemah, karena masih kecil atau tidak memiliki harta, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka atau penganiayaan atas mereka, yakni anak-anak yang lemah itu. Jika keadaan serupa mereka alami, apakah mereka akan menerima nasehat-nasehat seperti yang merekaberikan itu? Tentu saja tidak! Kerena itu, hendaklah mereka takut kepeda Allah SWT., atau keadaan anak-anak mereka di masa depan. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT. Dengan mengindahkan sekuat kemampuan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar lagi tepat.
5.Surat An-Naml ayat 40
Ayat ini menjelaskan kesediaan dan kesanggupan jin untuk menghadirkan singgasana Ratu Saba’ dalam tempo setengah hari. Ayat ini tidak mengungkapkan tanggapan Nabi Sulaiman atas ucapan sang ‘Ifrit. Rupanya ada tanggapan spontan dai seorang manusia yang selama ini mengasah kalbunya dan yang dianugerahi oleh Allah ilmu.
Singgasana itu hadir di hadapan Nabi Sulaiman dan takala dia melihatnya terletak dan benar-benar mantap dihadapannya.
Kata tharfuka terambil dari kata tharf yaitu gerakan kelopak mata dalam bentuk membukanya untuk melihat sesuatu sedangkan kata irtadda terambil dari kata radda yang berarrti mengembalikan dalam konteks ayat ini adalah tertutupnya kembali kelopak mata itu setelah sebelumnya terbuka.
Yang pasti dalamm ayat ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa kemampuan yang bersangkutan itu lahir dari ilmu yang dimilikinya dan ilmu itu adalah yang bersumber dari al-kitab yakni kitab suci yang diturunkan Allah kepada para nabinya.
6. Surat Al-Nahl ayat 8
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, dalam pengetahuan manusia tidak hanya sebatas apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga semua pengetahuan yang dapat menyelamatkannya di akhirat kelak.
Islam mengehendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusanduniawi dan ukhrowi, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Pengetahuan duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan manusia di dunia ini. Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia kelak di akhirat.